RAEGO

Porelea,¬†Pemburu itu terpana.. Dia terpana melihat selembar daun pohon tea..Daun itu tergantung dan menempel pada setetes liur mahluk udara. Daun yang berputar ke kiri dan kanan mengikuti irama lagu yang terdengar sayup-sayup. Syairnya terdengar diantara desau angin menyentuh dedaunan. Pelan dan Takzim…
“Siapakah yang membelah jari-jarimu,sehingga engkau bisa menggenggam?
“Siapakah yg membuka matamu sehingga engkau bisa melihat? Wahai manusia..?
Dialah Anitu Tuhan mereka
Dalam agama lokal beribu-ribu tahun yg lalu.
Lagu itu mengalun merdu menembus dedaunan. Berisi syair daur hidup.Keseimbangan kosmos dalam syair dan mantra-mantra.
Hidup adalah pijakan menjalin hubungan.
Manusia denganTuhan,.Manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Semuanya adalah cinta….
Beringsut pelan sang pemburu mencari asal suara nyanyian itu.. Di balik dedaunan dia melihat… Ternyata Lagu itu dinyanyikan oleh jamur yang tumbuh melingkar..

Raego adalah Raego orang-orang Pipikoro sulit mencari arti kata yang tepat untuk kesenian ini.
Dari sejarah Raego yang berasal dari jamur yang bernyanyi dan daun tergantung yang bergerak mengikuti irama syair,hal ini menggambarkan kedekatan orang Pipikoro atau komunitas adat To Po Uma terhadap hutan.
“Setiap peristiwa ada Raegonya,dari membuka hutan,membabat,membakar dan menanam ada Raegonya. Begitu juga saat kelahiran,perkawinan ,kematian ada Raegonya. Bahkan ada Raego untuk menyambut dan mengantar keberangkatan tamu” Ujar Tama Dame ketua Adat di Desa Porelea Pipikoro.

Siang itu saat berpamitan di Lobo kami disuguhi Raego Perpisahan… “Jika saudara berangkat ingatlah kami dengan segala keadaan kami, mohon maaf atas kesalahan selama saudara-saudara berada disini” itulah isi syair mereka.(Jimmy Methusala/Karsa Institute)

Leave a Reply

Your email address will not be published.