MERAJUT ASA DIBOYA TALISE

Bencana besar gempa, tsunami, dan likuefaksi 28 September 2018 yang lalu, yang melanda dua kabupaten dan satu kota di Sulawesi Tengah, membuat Hardi Umar bersama seluruh nelayan yang ada di Kelurahan Panau, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu  kehilangan perahu yang mereka andalkan untuk mencari nafkah. Perahu-perahu tersebut dihempas oleh tsunami yang datang sesaat setelah gempa.

Setelah tiga bulan berselang, semangat untuk melaut kembali muncul di benak para nelayan, walaupun masih ada juga nelayan yang masih merasa trauma dengan tsunami. Ditambah lagi dengan melihat ada nelayan yang daerahnya tidak terkena dampak tsunami sudah melaut mencari ikan sampai ke panau. Hal itu membuat nelayan di Panau merasa ingin sekali melaut, tapi apa daya perahu tidak punya. Namun harapan selalu terlintas dalam benak Hardi Umar untuk kembali melaut.

“Sudah gatal tangan ini mau turun melaut, namun bagaimana caranya. Saya masih belum punya perahu. Dalam hati berkata sabar dan ada saatnya saya pasti punya perahu,” kata Hardi Umar.

Pasca bencana (28/9/18), Konsorsium ERCB (Emergency Response Capacity Building) yang terdiri dari LPTP, Bina Swadaya, Yayasan Pusaka Indonesia, Perdhaki, yang bermitra  dengan lembaga-lembaga lokal seperti Karsa Institute, Yayasan Merah Putih, dan Awam Green. Konsorsium ERCB yang didukung oleh Cordaid Belanda, melakukan pengkajian terkait mata pencaharian yang sasarannya para nelayan di Kelurahan Panau. Sebagaian dari para nelayan di kelurahan tersebut sudah mendapatkan bantuan perahu dan peralatan tangkap ikan, namun masih banyak juga yang belum mendapatkan. Dari hasil kajian yang dilakukan ERCB di Dusun IV Boya Talise, ketika bertemu dengan Hardi Umar, ada kebutuhan 10 perahu untuk menangkap rono. Rono adalah sejenis ikan teri. Ukurannya kecil dan lembut.

Bantuan sebanyak 10 unit perahu tersebut bisa dimanfaatkan oleh 20 orang nelayan karena 1 perahu dioperasikan oleh 2 orang nelayan. Kesepuluh pasang nelayan tersebut memang merupaan pasangan yang telah bekerja sama sejak bencana belum terjadi.

Dari dua kali diskusi bersama nelayan calon penerima manfaat, ERCB menyiapkan bantuan berupa perahu, mesin katinting dan kemudi, genset, lampu LED, fitting lampu, saklar, dan kabel. Sedangkan para nelayan meyiapkan beberapa perlengkapan lain seperti jala dan kotak lampu yang merupakan wujud partisipatif dari para penerima manfaat.

“Ini bentuk swadaya dari kami, karena menurut kami, apa yang diberikan ERCB sudah sangat besar dan sangat berharga,” kata Hardi.

Dalam diskusi-diskusi yang dilakukan bersama para nelayan penerima manfaat, muncul kesepakatan bahwa perahu dan peralatan yang mereka terima tidak boleh dijual. “Karena perahu-perahu tersebut merupakan sumber mata pencaharian kita sebagai nelayan,” kata Hardi. Kayu yang dipilih untuk membuat perahu kualitasnya harus baik dan yang biasa dugunakan untuk membuat perahu tersebut. Karena ini berkaitan dengan jangka waktu pemakaian perahu, walaupun juga nantinya bergantung pada masing-masing nelayan dalam merawat perahunya.

Berselang dua bulan pengerjaan perahu yang dilakukan di dua desa, yaitu Desa Batusuya dan Desa Kaliburu, perahu diangkut menggunakan truk ke Boya Talise. Setelahnya, para nelayan penerima manfaat tersebut mempersiapakan perahu untuk dicat, sedikit disesuaikan demi kenyamanan mereka dalam menggunakan perahu.

Selang satu hari perahu diterima di Panau,  perwakilan dari Cordaid Belanda, Harma Rademaker, berkunjung ke Kelurahan Panau untuk melihat perahu-perahu bantuan tersebut. Harma mendapat penjelasan langsung dari Hardi Umar tentang bagaimana perahu ini dioperasikan, mengapa modelnya dipilih, dan juga memperlihatkan jala yang digunakan untuk menangkap rono.

Dalam kesempatan itu juga Harma bersama tim dari ERCB melakukan diskusi santai dengan para nelayan penerima manfaat, dan dia merasa senang karena bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi para nelayan dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Bercerita dengan para nelayan, apapun yang mereka bicarakan pasti tentang perahu, tangkap ikan, tangkap rono, dan itu membuat saya senang melihat semangat bapak-bapak nelayan ini yang ingin segera melaut,” kata Harma.

Masing-masing nelayan yang menerima bantuan perahu serta peralatannya juga diberi kesempatan untuk berbicara tentang apa yang telah diberikan oleh Cordaid melaui ERCB. “Intinya, para nelayan sangat berterima kasih pada Cordaid dan ERCB, terlebih lagi bagi masyarakat Belanda yang sudah memberikan bantuannya melalui Cordaid dan ERCB untuk membantu kami disini, sekali lagi kami ucapkan terima kasih,” pungkas Hardi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.