KARSA Institute GELAR BEDAH BUKU

KARSA INSTITUTE

KARSA Institute Palu menggelar bedah buku PERSPEKTIF AGRARIA KRITIS, Teori, Kebijakan dan Kajian Empiris, yang ditulis oleh Mohammad Shohibuddin.

Acara yang digelar di Cafe Radio Nebula Palu, Selasa (22/05/2018), pukul 16.00, dirangkaikan  buka puasa bersama. Diskusi ini diikuti sedikitnya 40 orang, terdiri dari para Akademisi, aktivis mahasiswa, aktivis LSM, peneliti, Pegiat Perempuan serta Komunitas Adat.

Bedah buku kali ini, menghadirkan Mohamad Shohibuddin, penulis buku  sebagai penyaji sekaligus penanggap. Sementara selaku pembedah tampil Arianto Sangadji, P.hd  dan Ustadz DR. Djamaludin Mariadjang.

Dalam pandangannya Arianto Sangadji, yang dikenal sebagai Sosiolog dan aktivis gerakan sosial, menyampaikan apresiasinya kepada penulis yang melalui bukunya, mau dan berani mengajak para pegiat, pengambil kebijakan, peneliti untuk memandang masalah agraria dalam kontek yang tidak tunggal dan teknis semata. Shohibudin menurut Arianto Sangadji mencoba mengembalikan masalah agraria dalam kontek relasi sosial agraria yang komplek.

Selanjutnya, Arianto Sangadji juga menilai, ketidak jelasan basis ekonomi politik yang digunakan oleh menulis didalam memndang masalah Agraria “meskipun pada bagian awal penulis sempat menyinggung titik tolak  pandangan ekonomi klasik, namun hal ini tidak dielaborasi lebih jauh, dan penulis seperti tidak tidak menempatkan ekonomi politik sebagai dasar Teori Reforma Agraria  sehingga kelihatan ada jejak yang hilang”, Tutur Arianto mengawali penilaiannya.

“tapi dilain sisi Penulis mengajak Kita untuk melihat secara kritis bahwa konsep Reforma Agraria (RA) bukan teoritik dan konsep yang tunggal, yang selama ini dipahami  oleh kalangan aktivis sebagai suatu konsep yang tunggal serta menerima begitu saja dan tidak perlu ada kritik pada hal itu”, lanjut Arianto.

dalam perkembangannya, berdasarkan pengalaman dan praktek reforma agraria di berbagai belahan dunia, Arianto menyebutkan bahwa terdapat tiga model reforma agraria yaitu : Reforma Agraria berbasis Pasar, Kedua, Reforma Agraria bercorak sosialis, yang menekankan pada Kolektivisas penguasaan tanah, dan ketiga, Reforma Agraria bercorak populisme. Dalam hal ini Arianto sangaji, menilai bahwa arah kebijakan Reforma Agraria yang dijalankan oleh pemerintahan Jokowi – JK saat ini adalah Reforma Agraria yang berorientasi pada pasar.

Terlepas dari itu Arianto Sangadji menilai, “buku ini sangat bagus, bukan saja untuk akademisi tapi juga untuk para aktivis yang bergerak di grassroot, dimana hal  yang bisa menjadi bahan bacaan serta petunjuk untuk bisa memahami masalah-masalah agraria secara konkrit di hadapan kita”.

Kebaruan buku ini menurutnya terletak pada ditonjolkannya aspek ekologis, selain aspek pemerataan dan keadilan sosial – ekonomi yang menjadi sifat dasar Reforma Agraria.

KARSA INSTITUTE 1

Pembedah kedua Ustadz DR. Djamaludin Mariadjang , pada kesempatannya yang sama meng-amini penilaian Arianto Sangadji. Mantan Sekjend PB Al Khairaat ini menilai bahwa buku yang di tulis Oleh Shohibuddin ini sangat menarik dan penting. Disamping pandangannya yang komprehensif mengenai relasi sosial ekologis, penulis menurutnya mengingatkan kita untuk memperhatikan aspek ekologis dalam keagrariaan. Prinsip ini yang menurutnya, menjadi titik temu antara pandangan penulis dengan cara pandang organisasi keagamaan utamanya NU – Al khairaat.

Dalam kesempatan ini Ustadz Djamaludin, mengakui bahwa sikap Nahdliyin terhadap Reforma Agraria mengalami perkembangan dari masa ke masa. Ada suatu masa mana para Kiayi, tepatnya melalui Muhtamar, menolak pelaksanaan Land Reform, namun saat ini berdasarkan Muhtamar juga, NU telah berjihad untuk mendukung Reforma Agraria. Djamaludimn menjelaskan bahwa sikap para Kiyai di ditahun 1961 itu bisa dimengerti, karena pada saat itu bahkan hingga saat ini banyak pesantren yang menguasai tanah secara luas. Mengapa demikian, karena tanah-tanah itu merupakan sumber operasional bagi kelangsungan pesantren.

Dalam kesempatan ini pula, Ustadz Jamaludin ingin menegaskan bahwa surplus yang tercipta dari pemanfaatan tanah yang terkonentrasi di pesantren tidaklah dinikmati oleh pemodal, namun untuk kemaslahatan pendidikan.

Selain itu, jamaludin menilai bahwa bukun ini tidak menghadirkan kritik secara secara teoritik, terhadap teori-teori yang sudah ada. Tapi lebih banyak mengungkap fakta-fakta yang bisa dilacak dengan data.

Menanggapi dari dua orang pembahas dan pembedah bukunya, Mohamad Shohibuddin  mengatakan bahwa, buku ini adalah kumpulan dari beberapa tulisan sebagai mata kuliahnya, sebagian ditulis untuk beberapa media nasional yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah BAB dan beberapa BAB yang ditulis khusus untuk keperluan buku ini.

Kenapa harus menulis Perspektif Agraria Kritis sedangkan ada banyak pilihan Teori agraria yang bisa juga ditulis, menurut Sohibuddin lewat buku ini bisa lebih banyak menyapa audens dari berbagai disiplin ilmu. Perspektif Agraria suatu yang sangat minim didapatkan, bahkan dikalangan aktivis itu sendiri sehingga pilihan ini diambil, ketimbang apa itu seluk beluk agraria, bagaimana teorinya dari waktu kewaktu dan lain-lain, sehingga buku ini lebih ditonjolkan pada sisi Perspektifnya

Dalam buku ini juga lebih menekankan isu-isu agraria yang didekati pada sisi perspektifnya sehingga bisa membuka ruang diskusi untuk banyak kalangan baik dari kalangan Akademisi, keagamaan maupun kalangan aktivis, ujar Shohibuddin.

Dalam pandangan penulis bahwa, pendekatan-pendekatan agraria bersifat relasional, bukan relasi sosial sehingga relasi kekuasaan cenderung diabaikan sehingga semuanya bersifat kontekstual.

“saya hanyalah sebagai juru rakit dari berbagai tulisan yang sudah ada”, pungkas Shohibuddin pada acara bedah bukunya.

Dalam kesempatan yang sama sebelum menutup acara bedah buku,  moderator sekaligus Direktur KARSA Institute Palu, Rahmat Saleh mengharapkan kiranya kegiatan seperti begini sesering mungkin bisa dilakukan sehingga akan terbukanya ruang-ruang diskusi, produksi pengetahuan diantara para pegiat, peneliti dan pelaku reforma agraria,  kendatipun disadari bahwa setiap pihak ini tidak selalu berdiri pada posisi yang sama. (KARSA INSTITUTE)

Leave a Reply

Your email address will not be published.