Jadi Orang Jangan Egois, Malu Dengan Warga Sigi Di Sulawesi

Gereja BK

Gereja BK Korps Porelea (silvia/detik Travel)

Sigi – Mereka yang suka bersikap egois, mungkin kurang piknik. Coba traveling ke Desa Porelea di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kita bisa belajar lagi soal hidup bertenggang rasa dari warga di sana.

Kehidupan di Desa Porelea, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah sangat erat. Masyarakat yang mayoritas beragama Kristen punya hubungan erat dengan gereja. Nyaris semua peristiwa melibatkan gereja. Pemuka gereja pun rajin mengunjungi rumah-rumah untuk sekadar mengetahui kabar jemaatnya.

Hampir 99 persen penduduk Desa Porelea beragama Kristen-Bala Keselamatan (BK-Salvation Army). Satu gereja BK berdiri gagah di Porelea, menonjol di antara rumah-rumah kayu milik penduduk. Gereja BK Porelea menaungi 123 jemaat.

detikTravel mengunjungi Desa Porelea pekan lalu. Camat Pipikoro yang bernama Smar bertutur bagaimana masyarakat hidup bertenggang rasa dan bergotong royong, misalnya ketika membangun gereja tahun 2012 silam.

Sungai Mokai

Sungai Mokoi yang Asri (Silvia/detik Travel)

“Biarlah rumah kita tidak layak huni, yang penting kita bangun rumah Tuhan yang megah,” ujarnya memulai cerita.

Pembangunan Gereja BK Korps Porelea terbilang tidak main-main, memakan waktu 9 tahun dengan biaya Rp 1,3 miliar. Itu semua berasal dari uang jemaat. Biaya tersebut digunakan untuk membeli semen, seng, cat, dan bahan lain yang tak didapat dari Porelea. Sedangkan kayu tinggal menebang pohon yang tumbuh di lereng gunung. Pasir dan kerikil diambil dari Sungai Mokoi yang berjarak 3 km dari Desa Porelea. Batako pun dibuat sendiri dari pasir.

“Orang-orang tua mengumpulkan pasir dan kerikilnya, lantas yang muda memikulnya naik ke sini, atau diangkut kuda. Dulu sepeda motor masih sedikit,” ujar Kapten Gabriel Pela dari Gereja BK Korps Porelea yang mulai bertugas di Porelea pada tahun 2012.

Kapten adalah sebutan untuk pendeta di gereja BK. BK menerapkan kepangkatan militer untuk para opsir (pejabat gereja), dari Letnan bagi yang baru lulus Pusdiklat BK hingga Jenderal bagi pemimpin pusat BK di London.

Kembali ke pembangunan gereja, saat itu jemaat diwajibkan membayar ‘ikrar’, yakni kesepakatan iuran untuk pembangunan gereja selama tiga kali dalam tiga bulan. Totalnya dari Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta sesuai kondisi ekonomi jemaat.

Itu bukanlah hal yang mudah, dari 140 kepala keluarga (KK) di Porelea, 90 KK di antaranya adalah

keluarga pra sejahtera. Tapi tidak ada yang egois, mereka semua mau berkorban meskipun itu berat. Hingga pembangunan gereja rampung, tak ada jemaat yang mangkir dari ikrar.

“Kalau hasil cokelat tak banyak, jemaat pergi barotan (mencari rotan di hutan-red) atau bekerja di kota agar ikrar terbayar,” kata Kapten Gabriel.

Dari warga Porolea, kita bisa belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk bersikap egois. Mereka tidak berpangku tangan untuk sesuai yang menjadi kepentingan umum. Ketika traveling ke berbagai pelosok Indonesia, kita bisa menyelami lagi nilai luhur bangsa, yang sudah luntur di perkotaan.(Sumber Silvia Galikano-d’traveler)

Kapten

Pendeta Kapten Gabriel Pela (Silvia/detik Travel)

Leave a Reply

Your email address will not be published.